Pertalite Mulai Langka Di Pengecer

Pertalite adalah BBM bersubsidi. Dengan harga 7600 saya kira sudah sangat tepat. Namun sekarang, keberadaanya susah di cari di pengecer di perkampungan. Tidak semua orang membeli bahan bakar di POM bensin. Sebagian masyarakat masih membeli di pengecer.

Dulu, awal mula premium langka juga demikian. Pengecer mulai susah mendapatkan premium dengan Jerigen. Akhirnya sebagian pedagang membeli premium dengan motor besar yang mempunyai kapasitas tanki sampai 10 liter seperti motor Thunder. Mereka pintar ngakalin untuk bisa beli premium banyak. Setelah sampai rumah para pengecer tersebut menyedot tanki motor mereka dan menaruhnya di botol-botol untuk di jual.

Sekarang keadaanya seperti itu. Pedagang bensin eceran di kampung-kampung mulai kesulitan mendapatkan pertalite. Ketika mereka membawa jerigen untuk membeli pertalite, petugas POM bensin akan menolak mereka. Sebagian kecil pedagang masih melakukan trik yang sama seperti mereka dulum membeli premium. Dengan menggunakan motor besar atau malah mobil. Mereka memenuhi tanki kemudian menyedot dan memindahkanya ke dalam botol untuk dijual.

Entah sampai kapan pertalite akan tersedia di pasaran. Penggunaan aplikasi mypertamina saya rasa tidak akan berjalan mulus. Di daerah perkotaan yang ramai, tentu penggunaan aplikasi seperti ini akan menimbulkan kemacetan panjang. Apalagi disaat jam sibuk biasanya banyak orang mengantri untuk membeli bahan bakar. Saya kawatir masyarakat yang tidak sabar akan melakukan tindakan anarkis.

Kalau menurut saya sih, pemerintah jangan sampai mencabut subside pertalite. Jika harga pertalite diatas 10.000 akan menyebabkan harga barang naik. Ini tentu diakibatkan biaya transportasi produk dan jasa akan naik juga. Naiknya biaya transportasi akan membuat pedagang menaikan harga barang dagangan mereka. Maka akan terjadi efek domino. Satu barang harganya naik, yang lain ikut naik pula.

Stabilitas harga itu sangat penting untuk menjaga kestabilan politik. Seperti di banyak negara, protes besar di Srilanka , Inggris, Italy, Albania dan masih banyak lagi, disebabkan oleh kenaikan harga-harga. Masyarakat kalau lapar dan tak mampu beli bahan pokok pada akhirnya akan turun kejalan. Ini tentu tidak bagus untuk keamanan. Mungkin ada yang berargumentasi agar subsidi tepat sasaran.. bolehlah namanya argumentasi. Yang jelas indikasinya kalau masyarakat masih mampu membeli kebutuhan pokoknya suasana akan tenang dan aman. Namun ketika mereka sudah tidak mampu membeli ....sejuta teori ekonomi, sosial dan politik akan kalah oleh orang lapar seperti di Srilanka. Semoga gak terjadi ya.. kaya di Srilanka.



0
0
0.000
0 comments