Sampah Masker Berserakan - 129 Milliar Setiap Bulanya

Kamu mungkin akan menganggap biasa sampah masker yang terlihat ada dimana-mana. Sampah jenis ini termasuk sampah yang susah di urai oleh bakteri pengurai. Ini disebabkan karena bahan baku pembuatan masker adalah sejenis bahan kimia yang memiliki ketahanan terhadap bakteri.

Kamu bisa bayangkan berapa banyak sampah masker setiap hari. Ketika masyarakat diwajibkan menggunakan masker, tidak semua orang membuang sampah ini sesuai tempatnya. Banyak orang yang membuang sembarangan. Apa yang terjadi adalah polusi tanah dan air.

Recent studies are calling the millions of coronavirus face masks people throw away a ticking plastic bomb.
https://www.studyfinds.org/covid-waste-face-masks-killing-wildlife/
Sampah dari masker merupakan bomb plastik. Dalam jurnal tersebut disebutkan sampah masker telah menggangu ekosistem binatang liar.

Tidak adanya pengolahan limbah masker membuat sampah plastik ini menumpuk. Hal yang paling mudah untuk mengurai sampah ini adalah dengan dibakar. Sampai saat ini belum saya temui daur ulang atau pemanfaatan limbah masker tersebut.

Sampah masker yang dibuang laut bisa menjerat burung laut dan mengotori air laut.

Dilansir dari The Independent, studi yang dilakukan University of Southern Denmark memperkirakan 129 miliar masker dibuang setiap bulan. Menurut laporan Ocean Asia 2020 yang berjudul “Masks on the Beach”, sebanyak 1,6 miliar sampah masker global berakhir di lautan. Jumlah ini setara 5,5 ribu ton sampah plastik dan setara 7% pusaran sampah Pasifik (The Great Pacific Garbage Patch).
https://katadata.co.id/ariayudhistira/infografik/6136feaecd17d/gunungan-sampah-masker-selama-

Kamu bisa bayangkan betapa besar jumlah sampah masker yang diakibatkan wajib masker saat ini.

5.5 ribu ton sampah masker masuk ke laut setiap bulanya adalah jumlah yang sangat besar. Memang ini adalah bom plastik. Sampai saat ini penggunaan masker masih menjadi wajib dibeberapa tempat umum. Saya sih berharap masker hanya digunakan di rumah sakit atau tempat kerja yang memang wajib masker untuk melindungi dari polusi udara.

Oleh karena itu, kita mungkin perlu mengurangi penggunaan masker. Pemerintah sudah membolehkan untuk tidak menggunakan masker di ruang terbuka. Kenapa kita tidak patuhi pemerintah. Artinya di ruang terbuka kita sudah aman dari apa yang disebut kopid. Saya masih temui seorang yang berolah raga di tempat terbuka masih memakai masker. Mungkin dia berhati-hati takut ketularan kopid. Sebenarnya penyebaran kopid lebih cepat lewat media sosial ... wkwkw maaf agak satir kata terahir.



0
0
0.000
5 comments
avatar

sepertinya masalah sampah bukan hanya terfokus terhadap masker saja sih om sebetulnya. sampah plastik saja masih menjadi momok bagi kita semua, mungkin jumlahnya lebih besar daripada hanya "masker".

Bahkan kita sendiri belum punya penanganan yang tepat untuk masalah klasik yang bernama "sampah", selain pemerintah yang terkesan cuci tangan, ada peran masyarakat juga dalam pemilahannya.

oh ia, mungkin sih kopid penyebarannya lebih cepat di media sosial, tapi bagi yang memang pernah kena dan bahkan sampai kehilangan anggota keluarganya, mungkin berharapnya memang benar ini virus cuman ada di media sosial aja sih om, heheh

0
0
0.000
avatar

Sampah plastik di sini sudah ada yang lebih jago Orang madura paling jago tuh ngolah sampah plastik. Sementara masker itu sifatnya global dan lokal.

Kalau kopit saya lebih setuju pendapat Bli Jerink SID

0
0
0.000
avatar
(Edited)

plastik bukannya lebih global yah om? masker hanya baru menjadi masalah sejak covid, sedangkan plastik? wkwkwkw

gpp sih om, itu bebas memilih untuk setuju dan percaya siapa saja. Tapi kalau sakit saya lebih percaya dokter sih wkwkwkw

!PIZZA

0
0
0.000